Sibuk Ngurusin Whoosh Malah Melupakan Yang Ini....
Pagi ini saya setengah terjatuh ketika mengantar anak saya berangkat sekolah. Sebagai warga Sleman, sebagian waktu saya habiskan di jalan, baik itu mengantar anak saya sekolah atau pun berangkat kerja ke studio di kota daerah Gejayan.
Jalur yang saya lalui menyusuri pinggir kota yang tiap harinya termasuk ramai. Walaupun jalannya tidak besar, terhitung kecil khas jalan kabupaten, lebar per ruasnya pas satu mobil. jalan tersebut cukup padat oleh pengendara kendaraan bermotor. Tidak cuma kendaraan roda dua seperti yang saya pakai pada hari itu, namun juga mobil pribadi, truk bahkan sesekali bus juga lewat.
Apakah jalan yang dilalui nyaman dilalui? tidak semuanya. Jarak dari rumah saya ke sekolah anak saya kurang lebih 8 kilometer. Tidak termasuk dekat, terutama dengan kecepatan rata-rata saya yang hanya 45 km/jam. Sebagian jalan tergolong mulus tapi banyak juga yang tidak mulus, alias banyak tambalan dan lubang.
Bisa ditebak, alasanya saya setengah terjatuh karena jalan yang tidak mulus yang berlubang. Ketika itu saya terpeleset dikarena jalan juga berpasir. Dengan sekuat tenaga saya menjaga motor tetap seimbang, dan setengah miring (hampir terjatuh). Namun anak saya jadi terlempar kedepan dari motor.
Alhamdulillah di belakang saya tidak ada kendaraan kecepatan tinggi, sehingga anak saya selamat, saya juga selamat. Di antara marah dan kecewa, mungkin saya kurang hati-hati, namun dengan saya berkendara pada saat itu tidak sampai kecepatan 30 km/jam, dan di depan saya pada saat itu ada mobil, saya merasa berkendara dengan "save", tapi lubang dijalan membaut saya hilang kendali dan pasir pada jalan membuat motor saya slip.
Marah, tentu saja, bukan karena takdir. Karena saya tau pemerintah lebih sibuk ngurusin whoosh yang harga per tikertnya ratusan ribu, dengan berbagai alasannya plus pengguna whoosh yang hanya sebagian kecil dari seluruh rakyat Indonesia, malah melupakan jalan-jalan lain yang menurut saya lebih prioritas dari pada whoosh.
Belum lagi khusus daerah Jogja yang sibuk memperindah kota dengan renovasi pembatasan jalan dan trotoar tapi tidak memperbaiki jalan-jalan yang menjadi akses utama masyarakatnya.
Postingan ini hanyalah kritikan saya terhadap pemerintah. Mungkin banyak juga teman-teman yang merasakan hal yang sama, termasuk terjengkang di jalan karena aspal yang lubang atau jalan yang tidak rata. Belum lagi efek dari jalanan rusak bisa membuat motor dan mobil lebih sering bermasalah atau biaya perawatan menjadi lebih tinggi, ujung-ujungnya ini berpengaruh pada ekonomi rakyat.
Saya yakin sekali banyak daerah di Jogja dengan kondisi jalan yang seharusnya sudah diperbaiki namun belum ada "take action" dari pemerintah setempat. Mungkin yang lebih parahnya, pemerintah serasa cuek, karena kita sebagai warga juga sudah membayar pajak kendaraan tiap tahun, namun apa yang diberikan pemerintah seperti tidak sesuai harapan.
Sepertinya sepele, jalan yang berlubang kecil, atau tidak rata. Namun bisa jadi sebuah kecelakaan, bisa besar atau kecil. Walaupun kecelakaan kecil, orang akan memilih tetapi tidak terjadi kecelakaan bukan?
Semoga pemerintah daerah lebih "aware" terhadap masalah ini. DIY bukan hanya kota Jogja, kota Jogja bukan hanya Malioboro. Dan ini hanya secuil masalah yang dihadapi Jogja dan sekitar, belum lagi permasalah lain seperti sampah dan banjir yang masih menghantui.
Comments
Post a Comment